MAKALAH HAKIKAT PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

 

MAKALAH

HAKIKAT PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

 

Di Susun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengelolaan Pengajaran PAI

Dosen Pengampu: Basri, M. Ag

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

 

AFIF EFENDI          (1801011006)

 

Kelas F

Semester V

 

 

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO LAMPUNG

2020

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Assalamualaikum Wr. Wb.

            Alhamdulilahi robil alamin, dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Dengan kesempatan ini, kami tidak lupa menyampaikan terima kasih kepada :

1.      Dosen pengampu matakuliah Pengelolaan Pengajaran.

2.      Kedua orang tua.

3.      Semua pihak yang  telah berkenan memberikan bantuan-bantuan.

            Kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. Karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun sehingga pembuatan makalah yang akan datang dapat lebih baik. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi pembaca umumnya.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

 

Metro, 09 Oktober 2020

 

 

Penyusun


 

DAFTAR ISI

 

HALAMAN JUDUL............................................................................................... i

KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii

DAFTAR ISI ........................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

1.        Latar Belakang .............................................................................................. 1

2.        Rumusan Masalah.......................................................................................... 1

3.        Tujuan Penulisan............................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 3

A.    Pengertian Pembelajaran Kontekstual............................................................ 3

B.     Karakteristik Pembelajaran Kontekstual........................................................ 4

BAB III PENUTUP ................................................................................................ 12

1.      Kesimpulan.................................................................................................... 12

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................. 13       

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.      Latar Belakang

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Kegiatan pembelajaran memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik. Dalam hal ini, kegiatan pembelajaran merupakan kegiatan utama sekolah dimana dalam kegiatan ini peserta didik membangun makna dan pemahaman dengan bimbingan guru. Kegiatan pembelajaran hendaknya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan hal-hal secara lancar dan termotivasi. Suasana belajar yang diciptakan guru harus melibatkan peserta didik secara aktif. Di sekolah, terutama guru diberikan kebebasan untuk mengelola kelas yang meliputi strategi, pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran yang efektif, disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran, karakteristik peserta didik, guru, dan sumber daya yang tersedia di sekolah. Kegiatan pembelajaran yang dimaksud dapat diwujudkan melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik.

Dengan demikian perlu adanya alternatif pendekatan dalam pembelajaran. Pendekatan  kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yang sering disingkat CTL Pembelajaran berbasis pendekatan kontekstual memungkinkan peserta didik untuk menguatkan dan menerapkan keterampilan yang mereka peroleh dari berbagai mata pelajaran, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Peserta didik dilatih untuk dapat memecahkan masalah yang mereka hadapi dalam suatu situasi. Bila CTL diterapkan dengan benar, diharapkan peserta didik akan terlatih untuk dapat menghubungkan apa yang diperoleh di kelas dengan kehidupan nyata yang dialami yang ada di lingkungannya. Tugas guru sebagai fasilitator memberikan pengarahan dan bimbingan kepada peserta didik sehingga pembelajaran  di kelas berbasis kontekstual dapat diterapkan dengan benar agar peserta didik dapat belajar lebih efektif. Dalam hal ini tugas guru adalah membantu mencapai tujuan pembelajaran.

Pendekatan kontekstual terdiri dari tujuh komponen, yaitu: constructivism, inquiry, questioning, learning community, modeling, reflection, authentic assessment. Berikut akan dikemukakan tentang hakikat pendekatan kontekstual, tujuh komponen pendekatan CTL, dan pembelajaran menulis berbasis pendekatan kontekstual.

 

B.     Rumusan Masalah

1.    apakah yang dimaksud pengertian pembelajaran kontekstual?

2.    bagaimana karakteristik pembelajaran kontekstual?

 

C.      Tujuan Penulisan

1.    Untuk mengetahui pengertian pembelajaran kontekstual

2.    Untuk mengetahui bagaimana karakteristik pembelajaran kontekstual

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.      Pengertian Pembelajaran Kontekstual

Blanchard dan Erickson mengemukakan bahwa pembelajaran kontekstual merupakan  konsep pembelajaran yang membantu guru dalam mengaitkan materi belajar dengan kehidupan nyata siswa. Dan mendorong siswa dapat membuat ikatan antara pembelajaran yang dia dapat dengan kehidupan mereka baik sebagai keluarga, warga negara, dan pekerja.[1]

Sementara menurut Hull’s dan Sounders pembelajaran kontekstual merupakan siswa menemukan hubungan antara ide-ide abstrak dengan penerapan di dunia nyata. Siswa melakukan penghayatan konsep melalui penemuan, penguatan, dan keterhubungan. Pembelajaran konstekstual menghendaki kerja dalam sebuah tim baik kelas, maupun tempat kerja. Pembelajaran kontekstual menuntut guru untuk mendesain lingkungan belajar yang terdiri dari gabungan beberapa bentuk pengalaman untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Elaine B. Johnson mengutarakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subyek-subyek akademik yang mereka pelajari dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial dan budaya mereka.

Berdasarkan definisi diatas dapat disimpukan bahwa pembelajaran adalah suatu bentuk pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik secara utuh agar dapat menemukan materi yang dipelajari serta menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata untuk diterapkan dalam kehidupan mereka, baik dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat maupun warga Negara, dengan tujuan untuk menemukan makna materi tersebut bagi kehidupannya.

 

B.     Karakteristik Pembelajaran Kontekstual

Blanchard mengidentifikasi karakteristik pendekatan kontekstual sebagai berikut; 1) Bersandar berdasar memori mengenai ruang 2) Mengintergrasikan berbagai subjek materi/disiplin 3) Nilai informasi didasarkan pada kebutuhan siswa 4) Menghubungkan infomasi dengan pengetahuan awal siswa 5) Penilaian sebenarnya melalui pemecahan masalah nyata. Sementara Bern dan Erickson mengutarakan karakteristik pembelajaran kontekstual sebagai berikut; (a) Interdisciplnary learning, (b) Problem-based lerning, (c) Exsternal contexts for learning.

Sementara Jhonson mengemukakan delapan karakteristik pembelajaran kontekstual sebagai berikut;[2]

1.        Making meaningful conections (membuat hubungan penuh makna) Siswa mampu mengatur diri sendiri sebagai individu yang aktif dalam mengembangkan minatnya, individu yang mampu bekerja sendiri maupun kelompok, dan individu  yang mampu belajar sembari berbuat.

2.      Doing significant work (melakukan pekerjaan penting) Siswa mampu membuat hubungan-hubungan antara sekolah dengan kehidupan nyata sebagai anggota dalam masyarakat.

3.      Self-regulated learning (belajar megatur sendiri) Siswa melakukan pekerjaan yang signifikan yang memiliki tujuan, ada urusan dengan orang lain, ada hubungan dengan penentuan pilihan, dan hasil yang nyata.

4.      Collaborating (kerja sama) Siswa dapat melakukan kerja sama. Guru membantu siswa dalam bekerja sama dalam kelompok membantu para siswa dalam bagaimana mereka saling berkomunikasi dan saling mempengaruhi.

5.      Critical and creative thinking (berpikir kritis dan kreatif) Siswa dapat berpikir kritis dan kreatif yakni; dapat menganalisa, membuat sintesis, memcahkan masalah, membuat keputusan, dan menggunakan bukti-bukti serta logika.

6.      Nurturing the individual (memelihara individu) Siswa memelihara pribadinya. Dapat  berupa mengetahui, memberi perhatian, memberi harapan-harapan yang tinggi, memotivasi serta memperkuat diri sendiri. Siswa tidak akan berhasil tanpa dukungan orang lain/orang dewasa.

7.      Reaching high standards (mencapai standar tinggi) Siswa mengenal dan mencapai standar tinggi. Guru dapat memperlihatkan kepada siswa bagaimana cara mencapai apa yang disebut “excelence”.

8.      Using authentic assesment (mengadakan asesmen autentik) Siswa menggunakan pengetahuan akademisi untuk tujuan yang bermakna. Misalnya siswa boleh menggambarkan informasi yang mereka pelajari untuk diaplikasikan di dunia nyata.

 

Sounders menjelaskan bahwa pembelajaran kontekstual difokuskan pada (Relating) belajar dalam konteks pengalaman hidup. (Experiencing) belajar dalam konteks pencarian dan penemuan. (Applying) pengetahuan dalam konteks kegunaannya. (Cooperating) belajar melalui konteks komunikasi internalpersonal dan saling berbagi. (Transfering) pengetahuan dalam suatu konteks atau situasi baru. Dengan penjelasan sebagai berikut:[3]

1)        Keterkaitan, relevansi (relating)

Proses pembelajaran hendaknya terdapat keterkaitan dengan bekal pengetahuan yang telah ada dalam diri siswa. Relevansi antara faktor internal seperti bekal pengetahuan keterampilan, minat, bakat dengan faktor eksternal seperti ekpose media dan pembelajaran oleh guru dan lingkungan luar, dan dengan konteks pengalaman dalam kehidupan dunia nyata seperti manfaat untuk bekal bekerja di kemudian hari.

2)      Pengalaman langsung (experiencing)

Proses pembelajaran siswa perlu mendapatkan pengalaman langsung melalui kegiatan eksplorasi, investigasi, penelitian, dan sebagainya. Experiencing dipandang sebagai jantung pembelajaran kontekstual. Proses pembelajaran dapat berlangsung cepat ketika siswa dapat langsung diberi kesempatan dalam proses pembelajaran seperti memanipulasi peralatan, memanfaatkan sember belajar, dan melakukan kegiatan penelitian secara aktif. Dalam meningkatkan motivasi dapat menggunakan strategi pembelajaran dan media seperti video, audio, dan sebagainnya.

3)      Aplikasi (applying)

Penerapan fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang telah dipelajari siswa merupakan pembelajaran yang bukan hanya sekedar menghafal. Melainkan bagaimana kemampuan siswa menerapkan pengetahuan yang telah dipelajari untuk kemudian diterapkan dan digunakan oleh siswa. Konsep ini erat kaitannya dengan bagaimana materi pembelajaran yang siswa dapat digunakan dimasa depan yakni berupa dunia kerja. Dalam kegiatan pembelajaran kelas pengenalan dunia kerja dapat dilakukan dengan media video atau kalau memungkinkan dilakukan magang, praktek kerja lapangan, dan sebagainnya.

4)      Kerja sama (cooperating)

Bentuk kerja sama dalam pembelajaran kontekstual dapat berupa saling bertukar pikiran, mengajukan dan menjawab pertanyaan, komunikasi interaktif antar siswa maupun antar siswa dengan guru, memecahkan masalah, dan mengerjakan tugas bersama. Kerja sama dapat memberikan makna kepada siswa bahwa di dunia nyata dalam menyelesaikan suatu masalah akan lebih berhasil jika dilakukan secara bersama-sama atau kerja sama.

5)      Alih pengetahuan (transfering)

Dalam pembelajaran kontekstual siswa mesti memiliki kemampuan mentrasfer pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki dalam situasi lain. Untuk itu pembelajaran bukan hanya sekedar dihafal namun bagaimana siswa mampu digunakan dan diterapkan dalam mengatasi pemecahan masalah baru.

 

Advanced technology enviromental and energy centet (ATEEC), Fellows menerangkan bahwa karakteristik pembelajaran kontekstual sebagai berikut;[4]

a.       Berbasis masalah (problem-based) pembelajaran kontekstual dapat dimulai dengan masalah nyata. Permasalahan yang diberi dapat berupa permasalahan yang terdapat disekitar kehidupan siswa. Siswa dapat berpikir kritis dan pendekatan sitemik dengan berbagai bidang ilmu pengetahuan yang dimiliki dalam mengkaji masalah guna menemukan pemecahan pemasalah tersebut.

b.      Penggunaan berbagai konteks (using multiple contexts) dalam pembelajaran kontekstual pengalaman siswa diperkaya melalui kemampuan siswa dalam berbagai konteks seperti dalam sekolah, keluarga, dan masyarakat.

c.       Penggambaran keaneragaman siswa (drawing upon student diversity) keragaman dalam populasi siswa mesti berbeda dapat berupa nilai-nilai, adat istiadat, dan perspektif. Keragaman ini mendorong kompleksifitas dalam pembelajaran konstekstual. Kerja sama pembelajaran kelompok, mengharmati perbedaan sejarah, meluaskan perspektif dan meningkatkan kemampuan interpersonal.

d.      Pendukung pembelajaran pengaturan diri (supporting self-regulated learning) siswa dituntut menjadi pelajar sepanjang hayat. Untuk itu siswa harus selalu memiliki keinginan mencari dan menggunakan informasi berdasarkan kesadaran diri sendiri. Dalam melakukannya siswa harus sadar bagaimana mereka memproses informasi dan memecahkan masalah menggunakan pengetahuan yang mereka miliki. Pembelajaran konstekstual perlu mempertimbangkan prinsip trial-eror. Menyediakan waktu dan struktur untuk refleksi dan menyediaakan cukup dukungan dalam belajar siswa.

e.       Penggunaan kelompok belajar yang saling ketergantungan (using interdependent groups) kelompok belajar digunakan untuk saling berbagi pengetahuan dan memberikan semua anggota untuk saling belajar dan mengajar. Guru daapat berperan sebagai fasilitator, pelatih, mentor dalam kelompok belajar.

f.       Memanfaatkan penilaian asli (employing authentic assesment) dalam pembelajaran kontekstual penilaian harus autentik sepanjang proses pembelajaran dan hasil pembelajaran. Penilaiaan autentik digunakan sebagai monitoring kemajuan siswa serta umpan balik terhadap keberhasilan guru dalam pembelajaran.

 

Ditjen Dikdasmen mengemukakan tujuh komponen utama pembelajaran kontekstual sebagai berikut:[5]

a.       Konstruktivisme (Constructivism)

Constructivism merupakan landasan berpikir (filosofis) pendekatan CTL, yaitu pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas dalam konteks yang terbatas, kemudian berkembang. Manusia harus mengonstruksi pengetahuan itu sehingga hal itu mampu memberikan makna dalam pengalaman kehidupan sehari-hari, yaitu pengalaman nyata.

b.      Menemukan (Inquiry)

Siswa diharapkan mampu memerroleh pengetahuan berdasarkan penemuan sendiri menggunakan siklus 1.observasi 2. Bertanya 3. Mengajukan dugaan 4. Pengumpulan data 5. menarik kesimpulan. Selain itu, dalam inquiry digunakan dan dikembangkan keterampilan berpikir kritis.

c.       Bertanya (Questioning)

Bertanya dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir peserta didik. Bagi peserta didik, kegiatan bertanya merupakan bagian terpenting dalam melaksanakan pembelajaran berbasis inquiry, yaitu menggali informasi, mengonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. Pada pendekatan pembelelajaran kontekstual baik guru maupun peserta didik harus mengajukan pertanyaan. Selain untuk mengggali informasi faktual dari peserta didik, guru juga bertanya untuk mendorong, membimbing, dan menilai mereka.

d.      Masyarakat Belajar (Learning Community)

Learning community adalah sekelompok orang yang terlibat dalam kegiatan belajar yang memahami pentingnya belajar, baik belajar secara individual maupun berkelompok agar mereka dapat belajar lebih mendalam. Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain.

e.       Pemodelan (Modeling)

Modeling, maksudnya dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang dapat ditiru. Model itu bisa berupa cara mengoperasionalisasikan sesuatu, cara melempar bola dalam olahraga, contoh karya tulis, cara menghafal bahasa Inggris, atau guru memberikan contoh cara mengerjakan sesuatu. Guru memberi model tentang bagaimana cara belajar. Sebagian guru memberikan contoh tentang cara bekerja sesuatu, sebelum peserta didik melakukan tugas. Dalam pembelajaran kontekstual guru bukan satu-satunya model. Misalnya, seorang peserta didik bisa ditunjuk untuk memberi contoh temannya cara melafalkan suatu kata. peserta didik itu dapat ditunjuk untuk mendemonstrasikan keahliannya. Peserta didik contoh tersebut dikatakan sebagai model. Peserta didik lain dapat menggunakan model tersebut sebagai ‘standar’ kompetensi yang harus dicapai.

f.       Refleksi (Reflection)

Reflection merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran kontekstual. Reflection merupakan cara berpikir tentang hal yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang hal-hal yang sudah dikatakan pada masa yang lalu. Peserta didik  memahami, menghadapi, menghayati, dan mengendapkan hal yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru yang merupakan pengayaan dan revisi dari pengetahuan sebelumnya. Misalnya, ketika pelajaran berakhir, peserta didik merenung, “Kalau demikian, cara saya mengungkapkan pendapat kurang tepat selama ini.” Mestinya dengan cara yang baru saya pelajari ini, ungkapan dengan menggunakan kata-kata akan lebih baik.

g.      Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assessment)

Kemajuan belajar bukan hanya dilihat dari nilai semata namun belajar merupakan sebuah proses. Penilaiaan dapat berupa tertulis, penilaian berdasar perbuatan, penugasan, prodek, atau portofolio.

 

Komalasari dalam disertasinya mengidentifikasikan karakteristik pembelajaran kontekstual meliputi sebagai berikut;[6]

1.      Keterkaitan (relating)

Pembelajaran memiliki keterkaitan antara bekal pengetahuan yang telah ada pada siswa dengan pengalaman dalam kehidupan nyata siswa. Keterkaitan ini meliputi (a) pengetahuan dan keterampilan sebelumnya, (b) materi lain dalam pelajaran pendidikan kewarganegaraan, (c) mata pelajaran lain, (d) ekspose media, (e) konteks lingkungan (sekolah, keluarga, masyarakat) (f) pengalaman nyata (g) kebutuhan siswa, (h)materi dari terbatas ke kompleks dan dari konkret ke abstrak.

2.      Pengalaman langsung (experiencing)

Proses pembelajaran dengan memberikan kesempetan bagi siswa untuk mengeksplorasi pengetahuan dengan cara  mencari dan menemukan sendiri secara langsung. Indikator konsep pengalaman langsung meliputi; eksplorasi, penemuan, investigasi, penelitian, dan pemecahan masalah.

3.      Aplikasi (applying)

Proses pembelajaran yang menekankan pada penerapan fakta, konsep, dan prosedur yang dipelajari sehingga bermanfaat terhadap kehidupan siswa. Indikator proses pembelajaran konsep aplikasi meliputi; (a) penerapan materi kedalam lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat. (b) penerapan materi dalam pemecahan masalah. (c) penggunaan metode karyawisata, praktek kerja lapangan, dan simulasi.

4.      Kerja sama (cooperating)

Pembelajaran dimana siswa dituntut melakukan kerja sama antar siswa, antar siswa dengan guru, dan sumber belajar. Indikator pembelajaran berkonsep kerja sama meliputi; (a) kerj kelompok menyelesaikan tugas dan memecahkan masalah (b) saling bertukar pikiran, mengajukan dan menjawab pertanyaan (c) komunikasi interaktif antar siswa, antar siswa dengan guru (d) penghormatan perbedaan gender, suku, ras, agama, status sosial, ekonomi, budaya, dan perpektif.

5.      Pengaturan diri (self-regulating)

Pembelajaran untuk mendorong siswa mengatur diri dan pembelajarannya secara mandiri. Indikator pembelajaran konsep pengaturan diri meliputi; (a)motivasi belajar sepanjang hayat (b) motivasi mencari dan menggunakan informasi dengan kesadaran diri (c) melaksanakan prinsip trial-eror (d) melakukan refleksi (e) belajar mandiri.

6.      Asesmen autentik (authentic assesment)

Pembelajaran yang mengukur dan menilai semua aspek hasil belajar. penilaian pembelajaran menyeluruh dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dan keseluruhan tahapan pembelajaran baik diawal, tengah maupun akhir. Penilaian dari guru dapat berupa penilaian tertulis, penilaian terhadap perilaku, penugasan, portofolio atau produk. Selain itu siswa pun dapat melakukan penilaian terhadap siswa lain dan dirinya sendiri dalam aktivitas pembelajaran dan pemahaman materi.

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

Pembelajaran kontekstual memiliki berbagai keunggulan di antaranya: (1) peserta didik terlatih untuk bernalar dan berpikir secara kritis terhadap materi, (2) peserta didik penuh dengan aktivitas dan antusias untuk menemukan inti materi, (3) peserta didik berani mengajukan pertanyaan dan informasi atau hal-hal yang tidak sesuai dengan pendapat mereka, (4) peserta didik terlatih untuk belajar ’sharing ideas’ saling berbagi pengetahuan dan berkomunikasi, (5) peserta didik dapat memberikan contoh melakukan pengamatan terhadap suatu objek di lingkungan sekolah secara giat, serius, dan antusias untuk memperoleh data seoptimal mungkin, (6) refleksi yang dilakukan, baik selama pembelajaran berlangsung maupun dalam setiap akhir pembelajaran berlangsung, (7) penilaian menekankan pada proses dan hasil pembelajaran.

Pembelajaran kontekstual merupakan upaya yang ditempuh guru untuk memberikan motivasi pada peserta didik agar peserta didik lebih aktif, kreatif, dan dapat memberdayakan kemampuan dirinya dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Dalam pembelajaran kontekstual peserta didik akan mengalami satu atau lebih bentuk pembelajaran berikut: 1) belajar dalam konteks mencari hubungan pengetahuan baru dangan pengalaman sehari-hari, 2) belajar dalam konteks penyelidikan, penemuan, dan penciptaan, 3) belajar dalam konteks bagaimana pengetahuan atau informasi dapat digunakan dalam situasi lain, 4) belajar dalam konteks bekejasama, toleransi, dan komunikasi, 5) belajar dalam konteks menggunakan atau memperkuat pemahaman yang telah dikuasai.

Dengan demikian, peserta didik menjadi kreatif, aktif, dan terbiasa praktik secara langsung serta meningkatkan kemampuan mereka dalam pembelajaran semua bidang studi.

DAFTAR PUSTAKA

 

Kokom Komalasari, Pembelajaran Kontekstual: Konsep dan Aplikasi, Bandung: Refika Aditama, 2013.

           



[1] Kokom Komalasari, Pembelajaran Kontekstual: Konsep dan Aplikasi (Bandung: Refika Aditama cet.3, 2013), 6.

[2] Ibid, 7.

[3] Ibid, 8.

[4] Ibid, 10.

[5] Ibid, 11.

[6] Ibid, 13.

Komentar

Postingan Populer