MAKALAH PRINSIP-PRINSIP DAN KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN SKI

 

MAKALAH

PRINSIP-PRINSIP DAN KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN SKI

 

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah Kebudayaan Islam dan Pembelajarannya

 

Dosen Pengampu :

 

 

Disusun Oleh :

1.                                

 

 

 

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS  TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

TH. 2020/2021


 

KATA PENGANTAR

 

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalahSEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM yang berjudul “PRINSIP-PRINSIP dan KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN SKI” dengan baik.

            Adapun makalah ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini.Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini.

Namun tidak lepas dari semua itu, kami  menyadari sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin memberi saran dan kritik kepada kami sehingga kami dapat memperbaiki makalah ini.Penyusun mengharapkan semoga dari makalah ini dapat diambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan inspirasi terhadap pembaca.

 

 

 

 

 

Metro,10 Oktober 2020

 

 

Penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

COVER..........................................................................................................................       1

KATA PENGANTAR.................................................................................................        i

DAFTAR ISI.................................................................................................................        ii

 

BAB I PENDAHULUAN............................................................................................        3

A.  Latar Belakang Masalah....................................................................................         3

B.   Rumusan Masalah..............................................................................................         3

C.   Tujuan Masalah.................................................................................................          3

 

BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................         4

A.  Prinsip-Prinsip Pembelajaran SKI……………................................................           4

B.   Karakteristik Pembelajaran SKI……………...................................................          8

 

BAB III PENUTUP......................................................................................................        11

A.  Kesimpulan .......................................................................................................         11

B.   Saran .................................................................................................................         11

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Islam diketahui memiliki karakteristik yang khas di bandingkan dengan agama-agama yang datang sebelumnya. Di era globalisasi ini, banyak masyarakat dan khususnya bagi para pelajar yang acuh tak acuh dengan sejarah Negara, apalagi sejarah paradaban islam. Dewasa ini mereka hanya memandang sejarah sebagai dongeng yang membosankan untuk di dengar. Padahal, sejarah, apalagi sejarah peradaban islam sangat penting bagi kita semua.Ajaran-ajaran islam yang diyakini oleh umat islam mengandung nilai-nilai islam yang memiliki peran yang sangat penting didalam mengembangkan kebudayaan islam. Disamping itu, ajaran - ajaran islam juga dapat menghidupkan ajaran utama  sesuai dengan kondisi dan kebutuhan dengan hidup umat manusia. Manusia sering dikatakan sebagai mahluk yang paling tinggi dibandingkan dengan mahluk lainnya. Tingginya harkat danmartabat manusia karena manusia mempunyai akal budi. 

Dengan adanya akal budilah, manusia mampu menghasilkan kebudayaan yang cenderung membuat manusia menjadi lebih baik dan lebih maju. Dengan kebudayaan tersebut manusia memperoleh banyak kemudahandan kesenangan hidup. Akal budi pun mampu menciptakan dan melahirkan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan keseluruhan yang  dihasilkan akal budi tersebut dapat dikelola untuk menghasilkan produk-produk yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk menuju peradaban yangmodern. 

 

B.       Rumusan Masalah

1.         Apa Sajakah Prinsip-Prinsip Sejarah Kebudayaan Islam?

2.         Bagaimana Karakteristik Pada Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam?

 

C.      Tujuan Masalah

1.         Untuk Mengetahui Apa Saja Prinsip-Prinsip Sejarah Kebudayaan Silam?

2.         Untuk Mengetahui Karakteristik Pada Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam?

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.      Prinsip-Prinsip Pembelajaran SKI

Kebudayaan Islam bukan kebudayaan yang diciptakan oleh orang Islam, tetapi kebudayaan yang bersumber dari ajaran Islam atau kebudayaan yang bersifat Islami. Islam datang untuk mengatur dan membimbing masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik, dengan demikian islam tidaklah datang untuk merusak kebudayaan yang sudah ada akan tetapi dalam waktu yang bersamaan islam menginginkan agar umat manusia terhindar dari hal-hal yang tidak bermanfaat dan membawa mudlarat dalam kehidupannya. Sehingga, islam perlu meluruskan dan membimbing kebudayaan yang berkembang di tengah masyarakat menuju kebudayaan yang beradab dan berkemajuan serta mempertinggi derajat kemanusiaan.

Prinsip-prinsip kebudayaan dalam Islam merujuk pada sumber ajaran Islam yaitu:

1.         Menghormati akal.

Manusia dengan akalnya bisa membangun kebudayaan baru.

Kebudayaan Islam tidak akan menampilkan hal-hal yang dapat merusak manusia. dijelaskan dalam Qs, Ali-Imran, 3:190 yang artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal”.

2.         Memotivasi untuk menuntut dan mengembangkan ilmu.

Firman Allah Swt :”Allah akan mengangkat (derajad) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajad” (Qs, aL-Mujadalah, 58:11).

3.         Menghindari taklid buta.

Kebudayaan Islam hendaknya mengantarkan umat manusia untuk tidak menerima sesuatu sebelum diteliti. Sebagaimana telah difirmankan Allah Swt: “Dan janganlah kamu mengikuti dari sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani semua itu akan dimintai pertanggungjawaban” (QS, al-Isra, 17:36).

4.         Tidak membuat pengrusakan.

Firman Allah Swt: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan” (Qs, al-Qhasash, 28:77).

 

Beberapa ahli pendidikan Islam (misalnya Ahmad Tafsir dan Abuddin Nata) ketika mengulas prinsip pembelajaran PAI, tampak bahwa ia mengadopsi prinsip pembelajaran dari teori pendidikan umum (Barat).

Adapun prinsip-prinsip pembelajaran yang relatif berlaku umum yaitu: prinsip perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan, serta perbedaan individual.

1.         Perhatian dan motivasi

            Perhatian mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar.Tanpa adanya perhatian, proses belajar tidak mungkin terjadi. Perhatian akan timbul pada peserta didik apabila bahan pembelajaran dirasakan sebagai: sesuatu yang dibutuhkan; diperlukan untuk belajar lebih lanjut; atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Thorndike sebagaimana dikutip Muhammad Thobrani dan Arif Mustofa menjelaskan jika anak tertarik dan merasa senang pada suatu kegiatan, maka akan menghasilkan prestasi memuaskan. Adapun motivasi dalam konteks pembelajaran adalah usaha sadar oleh guru untuk menimbulkan motif-motif pada peserta didik yang menunjang pencapaian tujuan pembelajaran.Motivasi erat kaitannya dengan minat.Peserta didik yang memiliki minat terhadap suatu bidang studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya dan dengan demikian timbul motivasinya untuk mempelajari bidang studi tersebut.Motivasi juga dipengaruhi oleh nilai- nilai yang dianggap penting dalam kehidupan.Nilai-nilai tersebut mengubah tingkah laku dan motivasinya.

 

2.         Keaktifan

Menurut pandangan psikologi, anak adalah makhluk yang aktif.Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemauan dan aspirasi sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan pada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif mengalaminya sendiri. John Dewey sebagaimana dikutip Abuddin Nata mengemukakan, belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan peserta didik untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang sendiri. Guru sekadar pembimbing dan pengarah. Jean Piaget yang dikutip Ahmad Rohani mengemukakan, seorang anak akan berpikir sepanjang ia berbuat, tanpa berbuat anak tak berpikir. Agar ia berpikir sendiri (aktif) ia harus diberikesempatan untuk berbuat sendiri. Lebih lanjut Piaget menjelaskan, bahwa belajar menunjukkan adanya jiwa yang sangat aktif, jiwa yang mengolah informasi, jiwa yang tidak sekadar menyimpan informasi, tetapi mengadakan transformasi.Keaktivan dapat berupa kegiatan fisik dan kegiatan psikis.Kegiatan fisik bisa berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilan, dan sebagainya.Sedangkan kegiatan psikis, misalnya, menggunakan khasanah pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, membandingkan satu konsep dengan yang lain, menyimpulkan hasil percobaan, dan sebagainya.

3.         Keterlibatan langsung/pengalaman

 Pembelajaran akan lebih bermakna jika peserta didik “mengalami sendiri apa yang dipelajarinya” bukan “mengetahui” dari informasi yang disampaikan guru, Pentingnya keterlibatan langsung dalam belajar dikemukakan oleh John Dewey dengan “learning by doing”-nya. Belajar sebaiknya dialami melalui perbutan langsung dan harus dilakukan oleh peserta didik secara aktif. Prinsip ini didasarkan pada asumsi bahwa para peserta didik dapat memperoleh lebih banyak pengalaman dengan cara keterlibatan secara aktif dan proporsional, dibandingkan dengan bila mereka hanya melihat materi/konsep. Hal ini ada kaiatannya dengan pendapat yang dikemukakan oleh seorang filosof Cina yaitu Confocius, bahwa: apa yang saya dengar, saya lupa; apa yang saya lihat, saya ingat; dan apa yang saya lakukan saya paham. Dari kata-kata bijak ini seseorang dapat mengetahui betapa pentingnya keterlibatan langsung dalam pembelajaran.

4.         Pengulangan

Prinsip belajar yang menekankan perlunya pengulangan adalah teori psikologi daya.Menurut teori ini belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas mengamat, menanggap, mengingat, mengkhayal, merasakan, berpikir, dan sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan, maka daya-daya tersebut akan berkembang, seperti pisau yang selalu diasah akan menjadi tajam. Teori lain yang menekankan prinsip pengulangan adalah teori koneksionisme Thorndike. Berangkat dari salah satu hukum belajarnya “law of exercise”, Thorndike mengemukakan bahwa belajar ialah pembentukan hubungan antara stimulus dan respons, dan pengulangan terhadap pengamatan- pengamatan itu memperbesar peluang timbulnya respons benar.Pada teori psikologi conditioning Pavlov, respons akan timbul bukan karena stimulus saja, tetapi oleh stimulus yang dikondisikan, misalnya peserta didik berbaris masuk ke kelas, mobil berhenti pada saat lampu merah. Ketiga teori tersebut menekankan pentingnya prinsip pengulangan dalam belajar, walaupun dengan tujuan yang berbeda.

5.         Tantangan

          Teori medan (field theory) dari Kurt Lewin mengemukakan bahwa peserta didik dalam situasi belajar berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis. Dalam belajar, peserta didik menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan yaitu menguasai bahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu, yaitu dengan mempelajari bahan belajar tersebut.Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar membuat peserta didik bergairah untuk mengatasinya.Bahan belajar yang baru, yang banyak mengandung masalah yang perlu dipecahkan, membuat peserta didik tertantang untuk mempelajarinya.Penggunaan metode eksperimen, inkuiri, discovery juga memberikan tantangan bagi peserta didik untuk belajar secara lebih giat dan sungguh-sungguh. Penguatan positif maupun negatif juga akan menantang peserta didik dan menimbulkan motif untuk memperoleh ganjaran atau terhindar dari hukum yang tidak menyenangkan.

6.         Balikan dan penguatan

                 Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan terutama ditekankan oleh teori belajar operant conditioning dari B.F. Skinner.Kalau pada teori conditioning yang diberi kondisi adalah stimulusnya, maka pada operant conditioning yang diperkuat adalah responnya.Kunci dari teori belajar ini adalah law of effect versi Thorndike.Peserta didik belajar sungguh- sungguh dan mendapatkan nilai yang baik dalam ulangan.Nilai yang baik itu mendorong anak untuk belajar lebih giat lagi.Nilai yang baik dapat merupakan operant conditioning atau penguatan positif. Sebaliknya, anak yang mendapat nilai yang jelek pada waktu ulangan akan merasa takut tidak naik kelas. Hal ini juga bisa mendorong anak untuk belajar lebih giat. Inilah yang disebut penguatan negatif atau escape conditioning. Format sajian berupa tanya jawab, diskusi, eksperimen, metode penemuan dan sebagainya merupakan cara pembelajaran yang memungkinkan terjadinya balikan dan penguatan.

7.         Perbedaan

Individu Setiap peserta didik merupakan individu yang unik, artinya tidak ada dua orang yang sama persis. Tiap peserta didik memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya. Perbedaan belajar ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar peserta didik. Sistem pendidikan klasikal yang dilakukan di sekolah tampak kurang memperhatikan masalah perbedaan individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan melihat peserta didik sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama, demikian pula dengan pengetahuannya.Pembelajaran klasikal yang mengabaikan perbedaan individual dapat diperbaiki dengan beberapa cara, misalnya: penggunaan metode atau strategi pembelajaran yang bervariasi, penggunaan metode instruksional, memberikan tambahan pelajaran atau pengayaan pelajaran bagi peserta didik yang pandai dan memberikan bimbingan belajar bagi yang kurang. Dalam memberikan tugas, hendaknya disesuaikan dengan minat dan kemampuan peserta didik.

 

B.       KarakteristikPembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam

Ada beberapa karakteristik sejarah yang paling mendasar adalah:

a.         Sifat Peristiwa

Sifat peristiwa sejarah menyangkut hakekat dan makna peristiwa serta keunikan peristiwa.

1.      Hakekat dan Makna Peristiwa

Peristiwa yang menjadi obyek kajian ilmu sejarah hanya peristiwa yang menyangkut kehidupan manusia secara langsung, dan memiliki signifikansi (arti atau makna penting) serta besar pengaruhnya terhadap kehidupan manusia secara luas. Hal itu berarti, sejarah adalah ilmu tentang manusia, tepatnya ilmu tentang pengalaman dan kiprah manusia di masa lampau.

2.      Keunikan Peristiwa

Selain hakekat dan makna peristiwa, studi sejarah juga ditujukan pada keunian peristiwa.Keunikan itu mungkin menyangkut individu, institusi, situasi bahkan mungkin juga ide.Keunikan unsur-unsur peristiwa itu menjadi bahan pertanyaan, mengapa.Karena, keunikan peristiwa merupakan salah satu alasan bagi pemilihan topik penelitian sejarah.

b.         Perspektif Waktu

Penelitian dan penulisan sejarah mengacu pada periodisasi (pembabakan waktu).Peristiwa yang dikaji harus jelas ruang-lingkup temporalnya.

c.         Sifat Fakta

Penulisan sejarah harus berdasarkan fakta. Fakta sejarah adalah hasil seleksi atas sifat fakta (kuat atau lemah ).

 

Adapun  9 karakterstik kebudayaan islam menurut Yusuf Qardhawi, yaitu :

a.         Rabbaniyah ( bernuansa ketuhanan )

b.         Akhlaqiyah (perilaku baik dan buruk menurut islam )

c.         Insaniyah ( memiliki nilai-nilai kemanusiaan )

d.        ‘Alamiyah ( bersifat terbuka )

e.         Tassamuh ( egaliter )

f.          Tanawwu’ ( beranekawarna )

g.          wasathiyah ( bersifat moderat )

h.         Takamul ( terpadu )

i.            Bangga terhadap diri sendiri

Cakupan materi pada setiap aspek dikembangkan dalam suasanapembelajaran yang terpadu.Penilaian dilakukan terhadap proses dan hasil belajar peserta didik berupa kompetensi yang mencakup pengetahuan, sikap dan keterampilan serta pengamalan. Penilaian berbasis kelas terhadap ketiga ranah tersebut ditakukansecara proporsional sesuai dengan karakteristik materi pembelajaran dengan mempertimbangkan tingkat perkembangan peserta didik serta bobot setiap aspek dari setiap materi.Karakteristik dalam pembelajaran sejarah kebudayaan islam antara lain :

1.         Keimanan

Yang mendorong peserta didik untuk mengembangkanpemahaman dan keyakinan tentang adanya Allah Swt. Sebagai sumber kehidupan.

2.         Pengamalan

Mengkondisikan peserta didik untuk mempraktekkan dan merasakan hasit-hasil pengamalan ajaran dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana yang dilakukan Sahabat, khalifah dan para ulama.

3.         Pembiasaan

Melaksanakan pembelajaran dengan membiasakan sikap dan perilaku yang baik yang sesuai dengan ajaran Islam yang dicontohkan oleh Sahabat, khalifah dan para ulama.

4.         Rasional

Usaha meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran skidengan pendekatan yang memfungsikan rasio peserta didik, sehinggaisi dan nilai-nilai yang ditanamkan mudah dipahami dengan penalaran.

 

 

5.         Emosional

Upaya menggugah perasaan (emosi) peserta didik dalam menghayati berbagai peristiwa dalam sejarah Islam sehingga lebih terkesan dalam jiwa peserta didik.

6.         Fungsional

Menyajikan materi SKI yang memberikan manfaat nyata bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari dalam arti luas.

7.         Keteladanan

Yaitu pendidikan yang guru serta komponen madrasahlainnya sebagai teladan; sebagai cerminan dari individu yang meneladani sahabat, khalifah dan para ulama.

 

Dalam karakteristik Sejarah Peradaban Islam, adapun karakteristik mata pelajaran Pendidikan Agama Islam adalah:

a.         Agama islam Merupakan mata pelajaran yang dikembangkan dari ajaran-ajaran pokok (dasar) yang terdapat dalam agama Islam. Oleh karna itu PAI adalah bagian yang tak terpisahkan dari Agama Islam.

b.          Muatan PAI dalam pelajaran tersebut adalah satu kesatuan yang tidak terpisah. Keempat pelajaran tersebut saling melengkapi dengan tujuan membina akhlak (moral) anak didik dan membentuk kepribadian mereka.

c.         Tujuan diberikannya pelajaran PAI adalah untuk membentuk peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt, berakhlak mulia, dan memiliki pengetahuan luas tentang Islam terutama sumber ajaran dan kerangka dasarnya

d.        Mempelajari berbagai bidang ilmu dan teknologi tanpa harus terbawa oleh pengaruh-pengaruh negatifnya.

e.          Tujuan yang ingin dicapai dari pelajaran PAI ini adalah agar peserta didik dapat mengamalkan dalam kehidupannya sehari-hari. Artinya penguasaan PAI ini tidak hanya dari sisi kognitif saja, tapi juga dari sisi afektif dan psikomotorik.

f.           Pendidik Agama Islam, memiliki kedudukan penting dalam sistem Pendidikan Nasional. Oleh karena itu merupakan pelajaran wajib yang harus diikuti oleh peserta didik yang beragama Islam. 28 Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam memiliki beban yang sama dengan tiga mata pelajaran lain. Dalam salah satu standar kompetensi Pendidikan Agama Islam yang dirumuskan oleh Dikdasmen disebutkan bahwa standar kompetensi Sejarah Kebudayaan Islam adalah untuk menggambarkan peradaban Islam sebagai ekspresi pengamalan ajaran Islam.

BAB III

PENUTUP

A.     Kesimpulan

     Dalam proses pembelajaran banyak unsur-unsur yang dapat menunjang keberhasilan suatu pembelajaran tersebut. Dengan berjalannya waktu, guru dan murid perlu bekerjasama  dalam mewujudkan tujuan-tujuan yang ada. Inilah yang disebut sebagai prinsip. Prinsip-prinsip tersebut diantaranya motivasi, keaktifan, keterlibatan lansung, penguatan, tantangan,  pengulangan, perbedaan. Dengan banyaknya pendapat mengenai prinsip pembelajaran, tujuan mereka sama yaitu untuk mensukseskan proses pembelajaran yang efektif.

     Adapun karakteristik dalam pembelajaran khususnya dalam sejarah kebudayaan islam diantaranya keimanan, pengamalan, pembiasaan, rasional, emosional, fungsional, keteladanan.

 

B.      Saran

     Sebagai seorang penulis kami berharap ada kritik dan saran dari hasil makalah yang kami buat.Mudah-mudahan bermanfaat bagi orang yang membacanya.Walaupun makalah ini dibuat dengan sangat sederhana.Tetapi di dalam banyak mengandung perluasan makna dan arti.Dan jika banyak kesalahan dalam makalah ini kami mohon maaf.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aminah, 2020 jurnal radenintan. Skripsi.hlm 24-26.

Rusydi Sulaiman, Pengantar Metodologi Studi Sejarah Peradaban Islam, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta:2014,hlm.24.

Komentar

Postingan Populer